Peran Kita dalam Perjalanan Sejarah Ilmu Kedokteran Bedah

Penampilan dasar edisi kali ini masih mengikuti gaya khas Jurnal Ilmu Bedah Indonesia seperti edisi-edisi sebelumnya yang tentunya sudah kita ketahui bersama bahwa susunan pengurus dan dewan redaksi sudah mengalami perubahan. Tentu perubahan kepengurusan itu dengan disertai tugas berat demi melihat kenyataan bahwa penerbitan jurnal sudah mengalami keterlambatan selama satu tahun penuh atau berarti 4 nomor tertinggal dari waktu yang sudah berjalan. Dalam rapat kerja pertama kepengurusan baru pada 10 Januari 2005, redaksi menyadari bahwa dalam waktu secepatnya jurnal sudah harus menerbitkan 4 nomor edisi 2004 yang ditetapkan untuk memperbaiki kualitas dengan memertahankan gaya cetaknya.

Kendala terbesar upaya mengejar ketertinggalan adalah sedikitnya jumlah naskah yang layak terbit. Di masa itu jumlah naskah dalam lemari redaksi hanya tersedia untuk satu nomor terbitan; itupun masih harus disertai beberapa perbaikan yang harus dilakukan oleh para penulisnya. Tekad untuk menyelesaikan terbitan setahun dalam waktu 4 bulan pada akhirnya baru terlaksana setelah hampir 6 bulan. Seluruh anggota dewan redaksi berupaya keras menjaring tulisan karya para pembaca utama yang notabene adalah para pakar di bidang ilmu bedah. Nomor ini adalah nomor penutup edisi tahun 2004 yang merupakan buah kerjasama seluruh komponen pemilik Jurnal Ilmu Bedah Indonesia. Saya sebut pemilik dengan mengambil arti yang luas yaitu dengan melibatkan para kontributor naskah dan para pembaca. Terima kasih kepada anda semua pemilik Jurnal Ilmu Bedah Indonesia.

Satu hal baru yang mencolok pada terbitan kali ini adalah pencantuman label akreditasi jurnal yang dikeluarkan oleh Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional yang memberikan penilaian A sebagai rank tertinggi penilaian kelayakan sebuah jurnal ilmiah di negara kita. Jadi dengan demikian pengurus memiliki beban berat untuk dapat memertahankan dan bahkan memperbaiki kualitas dan kuantitas jurnal kita ini. Apakah upaya tersebut dapat dikerjakan sendiri oleh pengurus? Jawabannya sudah dapat saya pastikan: tidak! Jurnal ini memerlukan sumbangsih kita bersama, para pemilik jurnal, melalui pekerjaan menulis karya ilmiah yang berbasiskan pengamatan dan pekerjaan sehari-hari. Tentu saja pekerjaan tulis itu akan dapat tercapai dengan baik bila kita selalu menerapkan pola pikir kritis dan berbudaya ilmiah. Pola pikir kritis dapat dicapai melalui langkah sederhana dengan selalu menengok referensi melalui penerapan ilmu kedokteran berbasis bukti. Setidaknya kita dapat memperbaiki karya kita di masa mendatang dengan selalu melakukan kritik terhadap diri sendiri.

Salah satu stimulan bagi kita semua untuk mau menulis karya ilmiah adalah melalui ide sederhana dalam percakapan sehari-hari: berlatih, berlatih, dan berlatih! Pekerjaan menulis di bidang ilmiah ini tidak berbeda dangan menulis di bidang populer atau sastra yang juga membutuhkan kemauan dan perhatian. Hal yang patut dijadikan stimulan juga adalah ide bahwa dengan kita menulis, berarti kita juga ikut berperan dalam perjalanan sejarah ilmu kedokteran. Sekali saja kita memiliki sebuah karya yang baik dan bermutu tinggi, tulisan dan nama kita akan mewarnai kasanah ilmu kedokteran, tanpa memedulikan seberapa sempit bidang ilmu itu. Pada masanya yang tepat, dalam jangka pendek maupun jangka panjang, orang lain dan generasi mendatang akan melihat, belajar dari, dan menyitir karya kita. Sitasi dalam dunia ilmiah mutlak harus disertai dengan pencantuman sumber bacaan yang pada suatu ketika memunculkan karya kita! Dengan demikian tugas bersama kita adalah membangun ide untuk ikut menyemarakkan perjalanan sejarah ilmu kedokteran bedah melalui karya-karya ilmiah sepanjang hidup.

Dewan redaksi jurnal kita ini sudah menetapkan tekad untuk dapat membawa Jurnal Ilmu Bedah Indonesia ini sebagai pilihan utama publikasi karya ilmiah para ilmuwan yang terkait dengan perkembangan ilmu bedah di Indonesia. Keterbatan ilmuwan kita untuk dapat menembus saringan redaksi jurnal-jurnal ilmiah internasional yang ternama akan memeroleh pematusannya dengan mengalirkan karya mereka ke dalam publikasi Jurnal Ilmu Bedah Indonesia yang akan segera mencapai gengsi tertingginya dengan bantuan kita bersama.

Tiga tahun mendatang ini akan merupakan juga masa peralihan untuk menampilkan Jurnal Ilmu Bedah Indonesia dalam bentuknya yang berwajah internasional. Dengan kesadaran penuh, dewan redaksi menyadari bahwa tekad ini akan menuai kritik. Belum lagi masyarakat bedah Indonesia ini sanggup mewujudkan karya-karya ilmiahnya dengan teratur, sudah ditambahi dengan beban harus menulis dalam bahasa Inggris!? Mau sok bergaya internasional? Jawabannya: tidak! Dalam dunia publikasi, selayaknyalah kita bertekad untuk memberikan yang terbaik dari diri kita; dan yang terbaik itu kita pacu untuk dapat ikut berkarya dalam kancah internasional karena hanya dengan cara demikianlah dunia internasional akan melihat keunggulan sumber daya manusia Indonesia! Apakah kita tidak mau ikut bersama-sama berjuang memperbaiki citra bangsa kita? Dalam keterpurukan bangsa ini, kita tunjukkan bahwa manusia-manusia yang berkarya dalam dunia kedokteran bedah adalah manusia-manusia unggul yang layak diperhitungkan pendapat ilmiahnya berdasarkan karya-karya ilmiahnya! Assessment-assessment dan operasi-operasi hebat dan bagus akan lebih mudah diketahui kualitasnya dan kuantitasnya melalui publikasi ilmiah; tidak hanya karya operasi yang disimpan dalam saluran perbincangan dari mulut ke mulut maupun karya ilmiah yang hanya tersimpan dalam lemari koleksi pribadi atau perpustakaan terbatas tanpa keterbukaan akses bagi masyarakat luas dunia ilmiah. Selamat berkarya!

 

(dipublikasikan ulang dengan izin dari Jurnal Ilmu Bedah Indonesia)

Posted in Academics | Tagged , , , , , | 2 Comments

Pak Cilik Anteng

Hari Sabtu pagi biasa saya pergunakan untuk bersantai dengan menulis, membaca, dan berjalan-jalan, atau juga bertemu teman atau kerabat untuk having brunch. Namun seperti layaknya para dokter bedah pada umumnya, Sabtu pagi masih bisa disela oleh kesibukan mengunjungi pasien-pasien. Sabtu itu saya berkendara untuk memenuhi janji saya menengok pasien yang saya buat menderita dengan cross leg flap yang saya terapkan kepadanya. Radio di dalam mobil memperdengarkan cerita yang disampaikan pak Bri GS yang saya gemari tanpa pernah saya jumpai.

Saya mencoba menyadur cerita Bri GS sebagai berikut tanpa ada pretensi aspek sara di dalamnya. Tersebutlah sesuka saya, pak Cilik Anteng adalah seorang dermawan kecil di sebuah masjid yang berada di dalam kompleks perkantoran elit. Setiap hari Jumat di waktu shalat pak Cilik Anteng, si penjaga masjid, melihat selalu ada saja orang-orang berkerah putih yang ganteng, gagah dan mentereng bersepatu keren mengkilat yang gelisah membutuhkan sandal jepit. Sang dermawan kecil ini kemudian membeli sepasang sandal jepit baru yang siap untuk dipinjamkan kepeda mereka yang memerlukan tanpa meminta uang sewa. Diletakkannya di suatu tempat yang mudah dilihat dengan tulisan: untuk dipinjam. Setelah  beberapa Jumat lamanya, sandal yang dia beli itu raib tak kembali. Pak Cilik cuma bisa mengelus dadanya menyesalkan oknum keren yang tak dia hafal wajahnya.

Seminggu kemudian dia menyiapkan sepasang sandal jepit bekas yang tidak terlalu usang. Namun demikian sandal bekas itu hanya bertahan 3 kali Jumat. Pak Cilik berpenghasilan kecil itu ternyata tak berkeberatan mengeluarkan lagi sejumlah kecil uangnya untuk menyumbang mereka yang membutuhkan. Kali ini dia menyiapkan sepasang sandal butut yang bukan cuma bekas, namun benar-benar butut yang kata orang Jawa sudah terepes (baca: beralas tipis karena aus). Dalam benaknya terlintas keyakinan bahwa orang tidak akan melenyapkan sandalnya kali ini. Wah ternyata pak Cilik keliru karena hari itu juga sandal bututnya tidak kembali! Kebangetan, katanya!

Pak Cilik yang merasa kecewa berat itu ternyata tidak jera karena pada dasarnya dia merasa bisa berbuat sesuatu kebajikan dengan menyediakan hanya sandal jepit (baca: barang sepele namun menentukan) bagi mereka yang membutuhkan di kala mendesak. Kali ini disediakannya sandal butut yang berbeda warnanya. Orang tentu akan malu membawa sandal yang berbeda warnanya. Tampaknya benar dugaannya kali ini, sandal itu kembali di tempatnya. Namun kelegaannya hanya bertahan satu minggu karena pada Jumat berikutnya sandalnya tidak kembali! Pak Cilik menjadi penasaran dan berpikir barangkali kalau sandalnya di sediakan dalam rupa sandal butut, warna berbeda dan disiapkan untuk kaki kiri semua, tidak akan ada orang keren yang tega untuk tidak mengembalikannya. Namun sayang kali ini pak Cilik salah lagi karena sandal yang tak layak dilirik itu juga tidak kembali!

Cerita di atas memberi permenungan kepada saya tentang kondisi mental bangsa saya tanpa memandang letak kejadiannya yang berarti bisa di semua lini kehidupan. Saya tidak bisa melupakan cerita di atas tanpa kegelisahan. Sebenarnya para peminjam sandal yang notabene orang-orang keren itu tidak perlu bersimpati kepada pak Cilik penyedia sandal gratis tersebut karena mereka tidak tahu persis siapa sebenarnya penyedia sandal tersebut. Mereka sebenarnya cukup berempati dengan mengembalikan sandal itu di tempatnya dan tidak membawanya ke bawah meja kerja mereka. Pun mereka tidak dibenarkan menganggap sepele keberadaan sandal butut berbeda warna dan tersedia sepasang untuk kaki kiri semua itu dengan membuangnya begitu saja. Adanya sandal itu sudah membuat mereka dapat menjaga kebersihan kaki mereka untuk bersembahyang dan tidak membuat sepatu mereka cepat rusak karena siraman air atau mungkin mengakibatkan ketidaknyamanan karena bersepatu basah hingga di bagian dalamnya. Sulit untuk dibuang dari benak saya bahwa perilaku mereka itu melambangkan arogansi diri kita yang memandang sebelah mata keberadaan sesuatu yang inferior: toh hanya sandal jepit murah! Toh hanya sandal jepit butut! Siapatah yang menaruh perhatian?

Kejadian di atas bisa terjadi dalam rupa berbeda dan di segala kesempatan dalam kehidupan manusia, termasuk dalam dunia kita di praktek kedokteran. Persoalan mendasar yang dapat saya ambil analoginya adalah persoalan hati yang berempati ketika kita menjadi tumpuan harapan pasien kita. Kita berada dalam posisi sangat superior, terlebih dokter spesialis bedah yang memiliki ilmu jauh di awang-awang pemahaman pasien dan keluarga yang awam. Dimulai dengan urusan sederhana (kata para dokter bedah): a dan antisepsis. Kita sering menurunkan standar sikap profesional kita dengan tidak mencuci tangan dengan benar. Kalau perlu dengan tidak mencuci tangan dan langsung memakai sarung tangan dengan justifikasi empirik bahwa selama ini kita tidak mengalami problema infeksi luka operasi. Justifikasi kita yang lain adalah dengan alasan yang sangat rasional bahwa tangan kita lebih bersih dari mulut pasien atau perut pasien yang kita diagnosis praoperasi telah tercemar oleh isi usus.Kapan kita pernah melakukan studi ilmiah tentang kebenaran pengalaman empirik tersebut?

Suatu ketika di masa lalu saya sendiri pernah bertindak melakukan penghematan pembeayaan dengan memanfaatkan benang sisa demi mengetahui kebutuhan luka yang hendak saya jahit tinggal satu atau dua jengkal setelah perjalanan panjang jahitan full thickness skin graft. Frasa pembenaran yang bisa kita pakai adalah ketidaktahuan pasien tentang apa yang kita kerjakan. Di kemudian hari saya merasa heran mengapa bisa tersedia benang sisa di kamar operasi? Sikap ini memang saya duga bukan hanya ada di Indonesia tetapi juga di negara-negara dunia ke tiga. Sebuah sikap yang katanya menghemat namun sebenarnya sudah sangat tertinggal dengan upaya berbagai bidang pelayanan profesional yang berlomba-lomba menggapai execellency. Di masa sekarang excellency ini dapat kita capai karena pembeayaan pasien tidak mampu dapat dijangkau oleh pelayanan jaring pengaman sosial. Exellency standar profesi selayaknya dijaga dengan tidak ditawar secara mudah, terlebih dengan ceroboh.

Sikap-sikap tidak layak dalam pekerjaan profesional kita itu dapat kita teliti melalui upaya mengurai setiap tahap hubungan dokter dan pasien sejak konsultasi pertama kali hingga selesainya perawatan pascaoperasi. Yang menjadi masalah yang sudah mengancam kenyamanan bekerja dokter bedah adalah persolan komunikasi dengan pasien yang sering berakibat dengan komplen dan tuntutan. Keengganan untuk memahami latar belakang sosial dan budaya pasien sering mengakibatan ketidaksesuaian pemahaman tentang proses pertolongan melalui operasi. Apa yang disampaikan dokter tidak dimengerti oleh pasien dan keluarga dengan pemahaman yang sama. Coba kita tilik, apakah pasien cukup mengerti tentang upaya penutupan sebuah ulkus besar dengan free flap yang dikerjakan melalui teknik bedah mikrovaskuler tanpa contoh-contoh gambar? Apakah pasien mengerti dengan benar apa yang kita kerjalan melaui tindakan PNL (percutaneous nephrolithotripsy)? Seorang dokter spesialis bedah plastik lulusan masa kini pun belum tentu memiliki pengetahuan  (catatan: bukan keterampilan!) yang baik tentang tindakan PNL, terlebih pasien awam.

Inferioritas pasien yang bisa berupa kekaguman akan keahlian kita itu akan menjadi makin terjajah manakala kita memanfaatkannya melalui arogansi kehebatan profesi dengan menyatakan profesi spesialisi kita sanggup mengatasi kasus tertentu sementara selama pendidikan kita belum pernah memiliki jam terbang operasi untuk mengatasinya atau bahkan tidak tercantum dalam katalog pendidikan kita! Yang tidak kalah memprihatinkan adalah bila kita menyatakan diri lebih baik dari sejawat kita seprofesi. Justifikasi yang sering dimanfaatkan adalah anggapan bahwa kita mungkin lebih baik bisa mengerjakannya dari pada orang-orang yang tidak bertanggungjawab yang mengaku diri sebagai dokter spesialis bedah tertentu.Toh kita juga menyandang sebutan dokter bedah walau bedah tertentu yang lain! Toh pasien tidak mengerti atau setidaknya tidak terlalu mengerti! Luapan keinginan untuk memperoleh uang cepat (saya tidak berani menyebutnya uang panas) berbicara merayu kita untuk tidak membuang kesempatan memasukkannya ke dalam buku tabungan kita.

Penjajahan inferioritas pasien makin busuk baunya ketika kita membebaninya dengan permintaan jasa pelayanan yang melambung setinggi langit. Kita menebak pasien berkartu kredit platinum atau bahkan infiniti (baca: berkantong tebal) dan kita berkesempatan meraup uangnya dengan melebihi kelayakan standar umum profesi. Siapa sih yang berani mengukur tarif kita? Kitalah yang paling pintar dan telah melalui pengorbanan (catatan: bukannya batu loncatan?) masa residensi yang melelahkan! Mungkin hal ini akan terjawab pada saat ada ketidakpuasan pasien karena komplikasi atau penyimpangan antara penjelasan kita dan hasil pengobatan yang berbuntut tuntutan hukum. Jawaban akan datang juga pada masa yang tidak terlalu lama pada saat semua langkah medis diminta untuk transparan di mata awam.

Saya bergegas kembali ke mobil setelah selesai melakukan kunjungan kepada pasien cross leg flap saya melalui canda-canda ringan yang semoga dapat membantu meringankan beban pasien saya itu. Saya bertanya pada diri sendiri akankah saya mendapatkan keterkejutan dalam posisi saya sebagai pasien manakala saya merasakan betapa menderitanya kedua tungkai saya itu dibuat saling berciuman walau telah memperoleh penjelasan detail praoperasi. Kedua tungkai melekat satu sama lain dan tidak bisa digerakkan sendi-sendinya selama 3 minggu! Terlebih terasa beratnya bukan main ketika kedua tungkai harus dilatih aktif melalui upaya  mengangkatnya bersama dengan adanya besi-besi yang berfungsi sebagai alat fiksasi eksterna. Bagaimana rasanya ya? Akankah saya berontak ketika merasakannya? Akankah saya tidak terkejut manakala tumit saya mengalami ulkus dekubitus karena tak kuasa saya menggerakkannya dan memindahkannya sendiri setiap 2 jam? Ah….tak sanggup saya membayangkannya lebih lanjut! Nah!!!???

Ingin sekali saya bisa bertemu dengan pak Cilik Anteng dan mengatakan saya ingin memperbaiki diri (dan profesi saya serta dunia kedokteran pada umumnya) melalui permenungan-permenungan yang serius dan cukup waktu untuk mengajinya secara mendalam; walau tentang hanya sandal jepit. Kalau pak Cilik bingung akan maksud saya, saya akan mengatakan bahwa saya (dan sejawat-sejawat saya) tidak boleh mengenal bosan berupaya memperbaiki diri melalui refleksi pengalaman pak Cilik untuk tidak menjadi mereka yang membutuhkan seperti pekerja kantor yang keren di atas, tidak bermental terepes, dan jauh dari keluhan pasien yang memberi cap kita kebangetan.

(Dipublikasikan ulang dengan izin dari Jurnal Ilmu Bedah Indonesia)

Posted in Academics | Tagged , , , , , , , , | Comments Off

Parafrasa: Reword Everything into Your Own Words!

Format tulisan yang sering dijadikan latihan menulis tulisan ilmiah seringkali berbentuk “Tinjauan Pustaka.” Hampir semua dokter yang menjalani pendidikan spesialis menyelesaikan pendidikannya melalui penyelesaian tugas menulis yang di antaranya berformat tinjauan pustaka. Namun lebih dari sekedar “hanya tinjauan pustaka,” pada galibnya format tinjauan pustaka selalu ada di dalam sebuah usulan penelitian yang merupakan sebuah studi mendalam tentang suatu masalah yang sedang menjadi topik penelitian. Studi yang mendalam tersebut sebaiknya merupakan sebuah kajian literatur yang menghasilkan buah pemikiran kritis yang selanjutnya merupakan sebuah landasan untuk menyusun pertanyaan penelitian beserta hipotesisnya.

Sayangnya, penulisan tinjauan pustaka seringkali disertai dengan cara menyitir ungkapan orang lain atau tulisan diri sendiri (yang sudah dipublikasi) yang tidak menunjukkan pemahaman yang benar. Seluruh kalimat atau bahkan paragraf dikopi sama persis dengan aslinya. Sebenarnya pengungkapan dengan gaya copy and paste tersebut tidak dibenarkan dalam etika menulis karya ilmiah. Setiap penulis harus belajar untuk mengungkapkan pemahaman yang diperoleh dari tulisan lain dengan gaya bahasa sendiri. Ungkapan yang menggunakan kata-kata dan kalimat sendiri tersebut tentu saja tidak boleh bertentangan bila memang tidak dimaksudkan untuk menyampaikan pertentangan ide. Akan tetapi, penulisan dengan gaya copy and paste tersebut tetap memiliki ruang dalam tulisan ilmiah yaitu bila kita tidak ingin mengubah kalimat atau frasa tulisan rujukan sesuai dengan aslinya. Syarat penulisan yang terakhir ini adalah dengan memberikan tanda petik di awal dan akhir kutipan.

Berikut ini adalah contoh sitiran dengan menggunakan pengungkapan yang berbeda dengan kutipan aslinya. The wide range of skin colors – from the deepest chocolate brown of Africa’s Ivory Coast to the warm olives of the Mediterranean to the pale fairness of Scandinavia – is paralleled by a similarly wide array of cultural beliefs…1  Tulisan yang memberikan keterangan adanya perbedaan warna kulit yang tergantung kepada ras dan lokasi geografis dapat dicerna dan selanjutnya diungkapkan dengan gaya bahasa sendiri. Misalnya: Skin color varies among different races and geographic regions. People from Africa’s Ivory Coast have deepest chocolate brown colored skin, while those from Mediterranean have warm olives skin; and Scandinavians pale fairness skin. … Contoh lain: “Hippocrates mendefinisikan ganglion yang diambil dari bahasa Yunani sebagai masses that contain mucoid flesh. Ganglion yang merupakan benjolan jaringan lunak tersering pada hand masih menjadi topik yang menimbulkan perdebatan, baik tentang etiologi maupun tata laksananya.”2 Pengungkapan sitiran dalam merujuk tulisan tersebut dapat disampaikan dengan gaya bahasa sendiri tanpa mengubah maknanya: “Istilah ganglion yang diambil dari bahasa Yunani didefinisikan oleh Hippocrates sebagai masses that contain mucoid flesh. Etiologi dan tatalaksana ganglion yang merupakan benjolan jaringan lunak tersering pada tangan masih kontroversial.”

Cara penyampaian kutipan yang menggunakan kata-kata dan kalimat-kalimat sendiri tersebut merupakan upaya melakukan parafrasa. Parafrasa dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Keempat yang dikeluarkan oleh Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional pada tahun 2008 didefinisikan sebagai “pengungkapan kembali suatu tuturan dari sebuah tingkatan atau macam bahasa menjadi tuturan yang lain tanpa mengubah pengertian;” atau “penguraian kembali suatu teks (karangan) dalam bentuk (susunan kata-kata) yang lain, dengan maksud untuk dapat menjelaskan makna yang tersembunyi.”3 Dengan demikian memparafrasakan berarti “menguraikan kembali suatu teks dalam bentuk lain.” 3 Karena kutipan yang diambil dari Kamus Besar Bahasa Indonesia tersebut ditulis sama persis dengan aslinya, maka kutipan tersebut disertai dengan tanda petik.

(Dipublikasikan ulang dengan izin dari Jurnal Ilmu Bedah Indonesia)

Daftar Pustaka:

  1. P&G Beauty & Grooming. Defining issues, changing the tone of skin science. Available from: http://www.pgbeautyscience.com/defining-issues-skintone.html
  2. Prasetyono TOH. Ganglion dan Hippocrates. J I Bedah Indones. 2005: 33(1): vii-viii. (Editorial)
  3. Tim Redaksi Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa. Kamus besar bahasa Indonesia Pusat Bahasa. 4th ed. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama; 2008.
Posted in Academics | Tagged , , , , , , , | 4 Comments

Prosedur Bedah Plastik untuk Remaja

Beberapa prosedur bedah plastik ditujukan untuk mencapai penampilan yang lebih muda, misalnya facelift (pengencangan wajah), blefaroplasti, dll. Meskipun demikian, sebenarnya kebutuhan untuk memiliki penampilan yang yang menarik dan proporsional tidak terbatas pada dewasa, tetapi juga remaja. Sebuah survei yang diadakan oleh Girl Guiding UK menunjukkan bahwa sejumlah besar remaja putri berusia 16-21 tahun mempertimbangkan untuk menjalani prosedur bedah plastik. Dua persen dari anak berusia 7-11 tahun tidak senang dengan penampilan mereka, dan angka ini meningkat menjadi 11% pada anak berusia 11-16 tahun.

Bedah plastik estetik adalah salah satu jalan yang dapat ditempuh untuk memperoleh penampilan yang lebih menarik. Kini jumlah permintaan untuk bedah plastik dari kalangan remaja estetik meningkat secara berkesinambungan. Peningkatan ini tidak hanya dijumpai di Eropa tetapi juga di negara-negara Asia. Meskipun demikian, permintaan demikian tidak dijumpai di kalangan remaja Indonesia, walaupun angka pastinya tidak diketahui. Bila ada, permintaan biasanya berasal dari orang tua pasien. Diperkirakan hal ini disebabkan oleh perbedaan budaya.

Indonesia cenderung lebih konservatif daripada negara-negara Asia tetangganya, misalnya Singapura. Bahkan pada kalangan ekonomi atas, bedah estetika tidak dianggap sebagai sesuatu yang harus dilakukan segera, melainkan dapat menunggu sampai sang remaja tumbuh dewasa. Hanya kalangan tertentu masyarakat, seperti public figure, yang menganggap lebih baik bila prosedur tersebut segera dilakukan agar remaja dapat terlihat cantik sejak dini.

Di Singapura dan Inggris, di mana terdapat lebih banyak pasien bedah plastik usia remaja daripada Indonesia, kandidat biasanya berusia sekitar 16-18 tahun. Pada masa ini, kebanyakan remaja telah cukup matang dan mampu memahami apa yang mereka sukai atau tidak sukai pada diri mereka. Dari sudut pandang dokter bedah plastik, usia yang tepat untuk menjalani prosedur bedah plastik tergantung bagian tubuh yang akan dikoreksi. Contohnya, blefaroplasti untuk membuat lipatan kelopak mata atas dan operasi perbaikan telinga dapat dilakukan pada remaja karena bagian tersebut telah bertumbuh secara maksimal. Di sisi lain, augmentasi payudara tidak cocok dilakukan pada remaja karena bagian tersebut belum tumbuh maksimal sehingga hasil operasi tidak dapat diprediksi.

Terdapat beberapa alasan mengapa remaja ingin menjalani prosedur bedah plastik estetik. Kadang remaja rentan berasa kurang percaya diri dan ingin menjadi seseorang. Misalnya, seorang remaja dapat merasa rendah diri bila dia memiliki telinga yang besar yang tidak dia lihat pada  orang lain. Belum lagi jika dia diperolok oleh teman-temannya, sehingga sang anak sulit bergaul dengan temannya. Dalam kasus ini, otoplasti (operasi perbaikan telinga) dapat dipertimbangkan. Alasan lain adalah bahwa masa remaja merupakan saat di mana mereka ingin tampil menarik di mata lawan jenisnya.

Walaupun remaja diperbolehkan menjalani prosedur bedah plastik estetik sebagaimana dewasa, terdapat beberapa persyaratan khusus yang harus dipersiapkan untuk dapat memperoleh hasil yang memuaskan. Remaja yang ingim menjalani prosedur estetik harus tahu benar apa yang dia inginkan dan mengerti sepenuhnya mengenai prosedur yang akan dia jalani. Kandidat yang berusia di bawah 21 tahun harus memperoleh persetujuan operasi dari orang tua atau wali mereka. Remaja sering mengeluhkan masalah yang berbeda dari orang dewasa. Saat konsultasi, mereka sebaiknya ditemani orang tua dan dibimbing agar memiliki harapan yang realistis mengenai apa yang dapat dicapai melalui tindakan bedah. Kadang, dokter perlu menasihati mereka untuk menunggu sebelum melakukan sesuatu yang drastis. Para remaja juga dapat diberikan penawaran untuk menjalani prosedur yang lebih kecil dan ringan – di mana kondisi dapat dikembalikan seperti kondisi semula – daripada prosedur yang permanen.

Prosedur Bedah Plastik Estetik untuk Remaja

Pembentukan lipatan kelopak mata atas (upper lid plasty), rinoplasti, liposuction, dam perbaikan telinga yang besar (otoplasti) adalah beberapa prosedur yang cukup sering dilakukan pada remaja, khususnya di negara-negara Asia, karena wajah Oriental memang tidak memiliki lipatan mata atas dan bentuk hidung mereka seringkali tidak mancung. Prosedur lain yang sering dikerjakan adalah reduksi payudara pria dan memperbaiki jaringan parut bekas jerawat.

Liposuction dilakukan untuk membentuk bagian tubuh yang tidak dapat dikecilkan dengan diet ataupun olahraga, misalnya daerah pinggul. Hal ini biasanya dipengaruhi faktor genetik. Sampai usia berapapun tidak akan mengecil tanpa operasi, jadi mengapa harus menunggu?

Beberapa prosedur estetik sebaiknya tidak dilakukan pada remaja karena beberapa bagian tubuh mereka masih berkembang. Contohnya, augmentasi payudara. Liposuction juga tidak disarankan, karena remaja yang mengalami kegendutan dapat menjadi lebih langsing begitu mereka mencapai masa pertumbuhan yang lebih cepat.

Efek Samping, Komplikasi, dan Masa Penyembuhan

Setiap prosedur bedah diasosiasikan dengan risiko komplikasi. Efek samping dan komplikasi pada dasarnya sama dengan orang dewasa. Contoh komplikasi yang spesifik remaja adalah gangguan pertumbuhan struktur tertentu. Sebagian remaja mungkin tidak memiliki mental yang cukup untuk membuat keputusan tentang sebuah prosedur pembedahan. Karena itulah penting untuk mendapatkan pengawasan orang tua selama konsultasi dan izin orang tua untuk mereka yang berusia di bawah 21 tahun. Penting pula bagi sang remaja untuk memahami sepenuhnya risiko komplikasi dan efek samping. Mengenai masa penyembuhan, biasanya remaja sembuh lebih cepat dibandingkan mereka yang berusia 50-60 tahun.

 

 (Narasumber: Prasetyono TOH; oleh Kurniati R. Plastic surgery for teenagers. Cosmetic Surgery & Beauty 2010:40-5.)

 

Posted in Public Education | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , | 2 Comments

Plastic Surgery for Teenagers

Some plastic surgery procedures are aimed to achieve a younger look, such as facelift, blepharoplasty, etc. However, the need to have an attractive and proportional look is not limited to adults, but also teenagers. A survey done by Girl Guiding UK showed that a considerable number of 16-21 year-old girls are considering to undergo a plastic surgery procedure. Two percent of 7-11 year-old children are unhappy with their appearance, and this number increases to 11% among those aged 11-16 years old.

Aesthetic plastic surgery is one of the means available to achieve an improved appearance. A continuous increase in the demand for plastic surgery procedures is observed among teenagers. This increase is observed not only in Europe but also in Asian countries. Still, the demand among Indonesian teenagers is not as much, although the exact number is not available. The demand, should it arise, usually comes from the parents. This is considered to be a result of culture difference.

Indonesia is considered more conservative than its Asian neighbours, such as Singapore. Even for those from established families, aesthetic surgery is not considered something that must be done immediately. Rather, it can wait until the teenagers become adults. Only specific circles of society, such as public figures, consider it better if the procedure is done sooner so that the teenagers may look attractive earlier.

In Singapore and England, where there are more teenager plastic surgery patients compared to Indonesia, candidates usually age around 16-18 years. During this period, most teenagers are already mature and know what they like or dislike well enough. From the plastic surgeon’s perspective, the appropriate timing to perform a plastic surgery procedure depends on the body part which will be corrected. For example, blepharoplasty to create upper eyelid fold and ear repair can be performed on a teenager, because those features are fully-developed. Breast augmentation, on the other hand, is not appropriate for teenagers because those features haven’t fully grown, making the outcome of surgery unpredictable.

There are several reasons why teenagers would want to undergo an aesthetic plastic surgery procedure. Now and again, teenagers are prone to feel a lack of confident and the desire to be somebody. For example, a teenager may feel inferior if he/she possesses big ears which he/she doesn’t see in his/her peers. This condition can be worsened if he/she is ridiculed by his/her friends, hindering his/her ability to socialize. In this case, an otoplasty (ear refinement surgery) can be considered. Another reason is that teenager years are the moment when they want to look attractive to their opposite sex.

Although teenagers are allowed to undergo an aesthetic plastic surgery procedure as much as adults, there are several distinctive requirements that have to be prepared to achieve a satisfactory result. Teenagers who wish to undergo an aesthetic procedure must know what they want and fully understand the ins and outs of the procedure. Those under 21 years of age must have an approval from their parents or legal guardian. Teenagers often complain different issues than adults. During consultation, they should be accompanied by their parents, and guided to have a realistic expectation of what the surgery will achieve. Sometimes, it is required to offer them to wait before they get a drastic alteration. They can also be offered a simpler procedure – one where the associated body part can be restored to its original condition – rather than a permanent one.

Aesthetic Procedures for Teenagers

Upper lid plasty, rhinoplasty, liposuction, and repairing big ears (otoplasty) are several procedures often performed on teenagers, especially in Asian countries, since an Oriental face often lacks upper eye fold and has a snub nose. Other frequently-performed procedures are male breast reduction and post acne scar repair.

Liposuction is done for contouring a body part that can’t be managed by neither diet nor exercise, such as the hip area. This is usually affected by genetic factor. It will not wane without surgery no matter one’s age, so why wait until later?

Some aesthetic procedures shouldn’t be done on teenagers, since some parts of their body are still developing. Examples include breast augmentation. Liposuction is also not suggested, since teenagers with obesity can become slimmer once they reach a fast growth period.

Side Effects, Complication, and Recovery Period

Every surgery procedure is associated with possible complications. Side effects and complications are basically similar to adults. An example of a complication specific to teenagers is disturbance of the particular structure’s growth. Some teenagers may not have adequate mental capability to decide on a surgery procedure. That’s why it is important to have parents accompany them during consultation and to get parents’ consent for teenagers below 21 years old. It is also essential for the teenager to fully understand the risk of complications and side effects. Regarding the recovery period, teenagers generally heal faster than those of age 50-60 years old.

(Resource person: Prasetyono TOH; by Kurniati R. Plastic surgery for teenagers. Cosmetic Surgery & Beauty 2010:40-5.)

 

Posted in Public Education | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , | 8 Comments

Pengecilan Betis (Calf Slimming)

Pada umumnya, wanita menginginkan betis yang  relatif langsing dan memiliki lengkung yang indah. Ukuran betis juga dipengaruhi oleh massa otot. Calf slimming adalah prosedur untuk mengecilkan massa otot betis dengan suntikan toksin Botulinum. Prosedur pembedahan juga dapat dilakukan, tetapi belum berkembang cukup dengan tingkat keberhasilan tinggi dan tingkat komplikasi rendah.

Prosedur suntikan toksin Botulinum membutuhkan waktu 10-15 menit. Prosedur ini efektif dilakukan untuk mengecilkan volume betis. Metode serupa digunakan untuk mengecilkan ukuran otot pada sudut rahang bawah yang sering member bentuk penampilan wajah kotak.

Efek akan terlihat 2 minggu pascasuntikan. Suntikan ulang akan dibutuhkan setelah 4-6 bulan. Kelemahan otot betis adalah komplikasi yang dapat terjadi, dan dapat mengganggu kemampuan berjalan, berlari, dan berjungkit.

(Sumber: Prasetyono TOH. Calf slimming. Bazaar 2009 Feb;Chapter 4:63.)

 

Posted in Public Education | Tagged , , , , , , , , , | Leave a comment

Calf Slimming

Generally, women desire a relatively slim and beautifully-curved calf. The size of a calf is also determined by its muscle mass. Calf slimming is a procedure to decrease the muscle mass of a calf by injection Botulinum toxin. An alternative method by surgery is available, but the method is yet to develop sufficiently with a high success rate and low complication rate.

Botulinum toxin injection takes 10-15 minutes to perform. This is effective to decrease calf volume. A similar method is performed to decrease the size of muscle on the lower jaw angle, which often causes a square face appearance.

The effect will be seen 2 weeks after injection. A repeated injection will be required after 4-6 months. Calf muscle weakness is a potential complication, which can hinder the ability to walk, run, and tiptoe.

(Source: Prasetyono TOH. Calf slimming. Bazaar 2009 Feb;Chapter 4:63.)

 

Posted in Public Education | Tagged , , , , , , , , , | 2 Comments

Augmentasi Bokong (Buttocks Augmentation)

Seperti payudara, bokong adalah salah satu simbol kewanitaan yang utama. Bokong yang indah adalah bokong yang bundar berisi, memiliki sedikit lekuk di sisi luar atas dan di atas bokong (di area love handle), cekungan satu garis yang melengkung di bawah bokong sisi dalam dan cekungan berbentuk huruf V di atas batas pertemuan antara bokong kanan dan kiri. Dilihat dari samping, bokong yang indah tampak berisi, terkesan padat, dan memiliki batas yang bersudut tegas antara punggung bawah dan bokong. Ukuran keindahan bentuk bokong juga dipengaruhi oleh ras.

Bentuk bokong yang kurang menarik adalah bokong yang relatif rata pada usia muda, bokong yang jatuh karena kendur pada usia tua, dan bokong dengan kelebihan lemak di atas atau di bawah bokong. Bentuk tulang belakang juga perlu dipertimbangkan dalam mengamati bentuk bokong.

Untuk memperbaiki bentuk bokong, Anda dapat menambah volume dengan menempatkan implan di balik otot. Prosedur ini dapat disertai dengan liposuction. Jenis lain augmentasi bokong adalah transfer lemak dari bagian tubuh lain yang memiliki lemak berlebih. Dalam kondisi terbatas, augmentasi bokong dapat dilakukan dengan memindahkan jaringan lemak bawah kulit di area atas bokong untuk menambah massa bokong.

Prosedur augmentasi bokong dilakukan dalam bius umum. Sayatan sepanjang 8-9 cm dibuat pada lekuk antara bokong kanan dan kiri. Ruangan “pocket” dibuat antara dua otot utama bokong atau di balik selaput pembungkus otot. Implan dimasukkan, kemudian luka operasi dijahit. Prosedur berlangsung sekitar 2 jam (lebih lama bila disertai liposuction).

Setelah operasi, Anda akan diminta mengenakan pressure garment dengan bagian berlubang di area kemaluan, yang dapat dipasangkan selama 4-6 minggu. Hasil nyata dapat dilihat setelah 3 bulan. Selama masa penyembuhan, Anda harus menghindari aktivitas fisik berlebih selama 4-6 minggu. Penting bagi Anda untuk mempertahankan kestabilan berat badan, berhenti merokok, dan menjalani haya hidup sehat untuk mempertahankan hasil yang optimal.

Komplikasi yang dapat terjadi adalah perdarahan, penimbunan cairan serum, infeksi, penyembuhan luka sayatan lambat, asimetri, dan cedera saraf.

(Sumber: Prasetyono TOH. Augmentasi bokong (buttocks augmentation). Bazaar 2009 Feb;Chapter 4:62.)

Posted in Public Education | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Buttocks Augmentation

Like breasts, buttocks are one of the most important features of a woman. Good-looking buttocks are those that look full and round, have a slight curvature on the upper outside part and above them (at the love handle area), a slight bend on the inside of lower buttocks and a V-shaped bend on the upper border between the left and right buttocks. From the side, fine buttocks look full, firm, and have an angled border between the lower back and the buttocks. One’s judgment of the shape of buttocks is also affected by one’s ethnic group.

Unattractive buttocks include those which are relatively flat at young age, loose buttocks on aging people, and buttocks with excess fat. The shape of the spine needs to be considered in observing the appearance of buttocks.

To refine the shape of buttocks, you can add volume by placing implants under the muscles. This procedure can be performed together with liposuction. Another type of buttocks augmentation is fat transfer from other body parts with excess fat tissue. In a limited condition, buttocks augmentation can be done by transferring soft tissue above the buttocks to add buttocks mass.

Buttocks augmentation procedure is performed in general anesthesia. An 8-9 cm incision is made on the curve between left and right buttocks. A space “pocket” is made for implant placement between two main muscles of the buttocks or under the muscle sheath. The implant is placed, and the incision is sutured. The procedure lasts approximately 2 hours (longer if liposuction is also performed).

After the surgery, you will need to wear pressure garment with an opening around the genitalia, which may take as long as 4-6 weeks. The final outcome will be seen after 3 months. During the recovery period, you must avoid strenuous physical activity for 4-6 weeks. It is important for you to maintain body weight stability, stop smoking, and lead a healthy lifestyle to achieve the optimal outcome.

Complications that may happen include bleeding, serum fluid deposition, infection, delayed wound healing, asymmetry, and nerve damage.

(Source: Prasetyono TOH. Augmentasi bokong (buttocks augmentation). Bazaar 2009 Feb;Chapter 4:62.)

 

Posted in Public Education | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , | 2 Comments

Reduksi Payudara pada Pria (Male Breast Reduction)

Kelenjar payudara pria terletak di bawah kompleks puting-areola. Pembesaran payudara pada pria (disebut ginekomastia) jarang terjadi. Bila terjadi, kondisi ini biasanya disebabkan oleh rendahnya kadar hormon pria, konsumsi alkohol berlebih yang menahun, dan efek obat-obatan. Pria muda dengan kegemukan sering memiliki area payudara yang membesar, disebabkan oleh penimbunan lemak di sekitar kelenjar payudara. Kondisi ini disebut pseudoginekomastia. Hal ini juga dapat terjadi pada mereka yang menua dengan berat badan relatif gemuk. Kondisi lain yang dapat menyebabkan bentuk payudara tidak estetik adalah penurunan berat badan masif, di mana kulit payudara yang kehilangan isi lemaknya menjadi menggelambir. Reduksi payudara pada pria adalah prosedur bedah plastik yang ditujukan untuk membentuk payudara pria yang membesar kembali ke bentuk normalnya.

Operasi dilakukan dalam bius umum. Untuk pembesaran payudara tanpa kulit menggelambir, sayatan kecil dibuat pada sisi samping dada untuk membuang lemak dengan liposuction. Setelah jaringan lemak dibuang, perlekatan kelenjar payudara pada puting dilepaskan dengan alat khusus, kemudian ditarik keluar. Setelah itu, luka dijahit dan dipasang bebat elastik. Pembesaran payudara yang disertai kulit menggelambir memerlukan teknik pembuangan kulit yang mirip dengan reduksi payudara pada wanita. Operasi biasanya berlangsung selama 2 jam.

Setelah operasi, Anda perlu mengenakan bebat elastik atau pressure garment khusus selama 6 minggu. Hasil akhir akan tampak nyata dalam 3 bulan. Anda harus menghindari aktivitas fisik berat selama 4-6 minggu. Penting bagi Anda untuk menjaga kestabilan berat badan, berhenti merokok, dan menjalani gaya hidup sehat untuk mempertahankan hasil yang optimal.

Komplikasi yang dapat terjadi adalah perdarahan, memar, infeksi, dan kehilangan rasa raba pada puting.

(Sumber: Prasetyono TOH. Breast shaping. Bazaar 2009 Feb;Chapter 4:61.)

 

Posted in Public Education | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment