Pak Cilik Anteng

Hari Sabtu pagi biasa saya pergunakan untuk bersantai dengan menulis, membaca, dan berjalan-jalan, atau juga bertemu teman atau kerabat untuk having brunch. Namun seperti layaknya para dokter bedah pada umumnya, Sabtu pagi masih bisa disela oleh kesibukan mengunjungi pasien-pasien. Sabtu itu saya berkendara untuk memenuhi janji saya menengok pasien yang saya buat menderita dengan cross leg flap yang saya terapkan kepadanya. Radio di dalam mobil memperdengarkan cerita yang disampaikan pak Bri GS yang saya gemari tanpa pernah saya jumpai.

Saya mencoba menyadur cerita Bri GS sebagai berikut tanpa ada pretensi aspek sara di dalamnya. Tersebutlah sesuka saya, pak Cilik Anteng adalah seorang dermawan kecil di sebuah masjid yang berada di dalam kompleks perkantoran elit. Setiap hari Jumat di waktu shalat pak Cilik Anteng, si penjaga masjid, melihat selalu ada saja orang-orang berkerah putih yang ganteng, gagah dan mentereng bersepatu keren mengkilat yang gelisah membutuhkan sandal jepit. Sang dermawan kecil ini kemudian membeli sepasang sandal jepit baru yang siap untuk dipinjamkan kepeda mereka yang memerlukan tanpa meminta uang sewa. Diletakkannya di suatu tempat yang mudah dilihat dengan tulisan: untuk dipinjam. Setelah  beberapa Jumat lamanya, sandal yang dia beli itu raib tak kembali. Pak Cilik cuma bisa mengelus dadanya menyesalkan oknum keren yang tak dia hafal wajahnya.

Seminggu kemudian dia menyiapkan sepasang sandal jepit bekas yang tidak terlalu usang. Namun demikian sandal bekas itu hanya bertahan 3 kali Jumat. Pak Cilik berpenghasilan kecil itu ternyata tak berkeberatan mengeluarkan lagi sejumlah kecil uangnya untuk menyumbang mereka yang membutuhkan. Kali ini dia menyiapkan sepasang sandal butut yang bukan cuma bekas, namun benar-benar butut yang kata orang Jawa sudah terepes (baca: beralas tipis karena aus). Dalam benaknya terlintas keyakinan bahwa orang tidak akan melenyapkan sandalnya kali ini. Wah ternyata pak Cilik keliru karena hari itu juga sandal bututnya tidak kembali! Kebangetan, katanya!

Pak Cilik yang merasa kecewa berat itu ternyata tidak jera karena pada dasarnya dia merasa bisa berbuat sesuatu kebajikan dengan menyediakan hanya sandal jepit (baca: barang sepele namun menentukan) bagi mereka yang membutuhkan di kala mendesak. Kali ini disediakannya sandal butut yang berbeda warnanya. Orang tentu akan malu membawa sandal yang berbeda warnanya. Tampaknya benar dugaannya kali ini, sandal itu kembali di tempatnya. Namun kelegaannya hanya bertahan satu minggu karena pada Jumat berikutnya sandalnya tidak kembali! Pak Cilik menjadi penasaran dan berpikir barangkali kalau sandalnya di sediakan dalam rupa sandal butut, warna berbeda dan disiapkan untuk kaki kiri semua, tidak akan ada orang keren yang tega untuk tidak mengembalikannya. Namun sayang kali ini pak Cilik salah lagi karena sandal yang tak layak dilirik itu juga tidak kembali!

Cerita di atas memberi permenungan kepada saya tentang kondisi mental bangsa saya tanpa memandang letak kejadiannya yang berarti bisa di semua lini kehidupan. Saya tidak bisa melupakan cerita di atas tanpa kegelisahan. Sebenarnya para peminjam sandal yang notabene orang-orang keren itu tidak perlu bersimpati kepada pak Cilik penyedia sandal gratis tersebut karena mereka tidak tahu persis siapa sebenarnya penyedia sandal tersebut. Mereka sebenarnya cukup berempati dengan mengembalikan sandal itu di tempatnya dan tidak membawanya ke bawah meja kerja mereka. Pun mereka tidak dibenarkan menganggap sepele keberadaan sandal butut berbeda warna dan tersedia sepasang untuk kaki kiri semua itu dengan membuangnya begitu saja. Adanya sandal itu sudah membuat mereka dapat menjaga kebersihan kaki mereka untuk bersembahyang dan tidak membuat sepatu mereka cepat rusak karena siraman air atau mungkin mengakibatkan ketidaknyamanan karena bersepatu basah hingga di bagian dalamnya. Sulit untuk dibuang dari benak saya bahwa perilaku mereka itu melambangkan arogansi diri kita yang memandang sebelah mata keberadaan sesuatu yang inferior: toh hanya sandal jepit murah! Toh hanya sandal jepit butut! Siapatah yang menaruh perhatian?

Kejadian di atas bisa terjadi dalam rupa berbeda dan di segala kesempatan dalam kehidupan manusia, termasuk dalam dunia kita di praktek kedokteran. Persoalan mendasar yang dapat saya ambil analoginya adalah persoalan hati yang berempati ketika kita menjadi tumpuan harapan pasien kita. Kita berada dalam posisi sangat superior, terlebih dokter spesialis bedah yang memiliki ilmu jauh di awang-awang pemahaman pasien dan keluarga yang awam. Dimulai dengan urusan sederhana (kata para dokter bedah): a dan antisepsis. Kita sering menurunkan standar sikap profesional kita dengan tidak mencuci tangan dengan benar. Kalau perlu dengan tidak mencuci tangan dan langsung memakai sarung tangan dengan justifikasi empirik bahwa selama ini kita tidak mengalami problema infeksi luka operasi. Justifikasi kita yang lain adalah dengan alasan yang sangat rasional bahwa tangan kita lebih bersih dari mulut pasien atau perut pasien yang kita diagnosis praoperasi telah tercemar oleh isi usus.Kapan kita pernah melakukan studi ilmiah tentang kebenaran pengalaman empirik tersebut?

Suatu ketika di masa lalu saya sendiri pernah bertindak melakukan penghematan pembeayaan dengan memanfaatkan benang sisa demi mengetahui kebutuhan luka yang hendak saya jahit tinggal satu atau dua jengkal setelah perjalanan panjang jahitan full thickness skin graft. Frasa pembenaran yang bisa kita pakai adalah ketidaktahuan pasien tentang apa yang kita kerjakan. Di kemudian hari saya merasa heran mengapa bisa tersedia benang sisa di kamar operasi? Sikap ini memang saya duga bukan hanya ada di Indonesia tetapi juga di negara-negara dunia ke tiga. Sebuah sikap yang katanya menghemat namun sebenarnya sudah sangat tertinggal dengan upaya berbagai bidang pelayanan profesional yang berlomba-lomba menggapai execellency. Di masa sekarang excellency ini dapat kita capai karena pembeayaan pasien tidak mampu dapat dijangkau oleh pelayanan jaring pengaman sosial. Exellency standar profesi selayaknya dijaga dengan tidak ditawar secara mudah, terlebih dengan ceroboh.

Sikap-sikap tidak layak dalam pekerjaan profesional kita itu dapat kita teliti melalui upaya mengurai setiap tahap hubungan dokter dan pasien sejak konsultasi pertama kali hingga selesainya perawatan pascaoperasi. Yang menjadi masalah yang sudah mengancam kenyamanan bekerja dokter bedah adalah persolan komunikasi dengan pasien yang sering berakibat dengan komplen dan tuntutan. Keengganan untuk memahami latar belakang sosial dan budaya pasien sering mengakibatan ketidaksesuaian pemahaman tentang proses pertolongan melalui operasi. Apa yang disampaikan dokter tidak dimengerti oleh pasien dan keluarga dengan pemahaman yang sama. Coba kita tilik, apakah pasien cukup mengerti tentang upaya penutupan sebuah ulkus besar dengan free flap yang dikerjakan melalui teknik bedah mikrovaskuler tanpa contoh-contoh gambar? Apakah pasien mengerti dengan benar apa yang kita kerjalan melaui tindakan PNL (percutaneous nephrolithotripsy)? Seorang dokter spesialis bedah plastik lulusan masa kini pun belum tentu memiliki pengetahuan  (catatan: bukan keterampilan!) yang baik tentang tindakan PNL, terlebih pasien awam.

Inferioritas pasien yang bisa berupa kekaguman akan keahlian kita itu akan menjadi makin terjajah manakala kita memanfaatkannya melalui arogansi kehebatan profesi dengan menyatakan profesi spesialisi kita sanggup mengatasi kasus tertentu sementara selama pendidikan kita belum pernah memiliki jam terbang operasi untuk mengatasinya atau bahkan tidak tercantum dalam katalog pendidikan kita! Yang tidak kalah memprihatinkan adalah bila kita menyatakan diri lebih baik dari sejawat kita seprofesi. Justifikasi yang sering dimanfaatkan adalah anggapan bahwa kita mungkin lebih baik bisa mengerjakannya dari pada orang-orang yang tidak bertanggungjawab yang mengaku diri sebagai dokter spesialis bedah tertentu.Toh kita juga menyandang sebutan dokter bedah walau bedah tertentu yang lain! Toh pasien tidak mengerti atau setidaknya tidak terlalu mengerti! Luapan keinginan untuk memperoleh uang cepat (saya tidak berani menyebutnya uang panas) berbicara merayu kita untuk tidak membuang kesempatan memasukkannya ke dalam buku tabungan kita.

Penjajahan inferioritas pasien makin busuk baunya ketika kita membebaninya dengan permintaan jasa pelayanan yang melambung setinggi langit. Kita menebak pasien berkartu kredit platinum atau bahkan infiniti (baca: berkantong tebal) dan kita berkesempatan meraup uangnya dengan melebihi kelayakan standar umum profesi. Siapa sih yang berani mengukur tarif kita? Kitalah yang paling pintar dan telah melalui pengorbanan (catatan: bukannya batu loncatan?) masa residensi yang melelahkan! Mungkin hal ini akan terjawab pada saat ada ketidakpuasan pasien karena komplikasi atau penyimpangan antara penjelasan kita dan hasil pengobatan yang berbuntut tuntutan hukum. Jawaban akan datang juga pada masa yang tidak terlalu lama pada saat semua langkah medis diminta untuk transparan di mata awam.

Saya bergegas kembali ke mobil setelah selesai melakukan kunjungan kepada pasien cross leg flap saya melalui canda-canda ringan yang semoga dapat membantu meringankan beban pasien saya itu. Saya bertanya pada diri sendiri akankah saya mendapatkan keterkejutan dalam posisi saya sebagai pasien manakala saya merasakan betapa menderitanya kedua tungkai saya itu dibuat saling berciuman walau telah memperoleh penjelasan detail praoperasi. Kedua tungkai melekat satu sama lain dan tidak bisa digerakkan sendi-sendinya selama 3 minggu! Terlebih terasa beratnya bukan main ketika kedua tungkai harus dilatih aktif melalui upaya¬† mengangkatnya bersama dengan adanya besi-besi yang berfungsi sebagai alat fiksasi eksterna. Bagaimana rasanya ya? Akankah saya berontak ketika merasakannya? Akankah saya tidak terkejut manakala tumit saya mengalami ulkus dekubitus karena tak kuasa saya menggerakkannya dan memindahkannya sendiri setiap 2 jam? Ah….tak sanggup saya membayangkannya lebih lanjut! Nah!!!???

Ingin sekali saya bisa bertemu dengan pak Cilik Anteng dan mengatakan saya ingin memperbaiki diri (dan profesi saya serta dunia kedokteran pada umumnya) melalui permenungan-permenungan yang serius dan cukup waktu untuk mengajinya secara mendalam; walau tentang hanya sandal jepit. Kalau pak Cilik bingung akan maksud saya, saya akan mengatakan bahwa saya (dan sejawat-sejawat saya) tidak boleh mengenal bosan berupaya memperbaiki diri melalui refleksi pengalaman pak Cilik untuk tidak menjadi mereka yang membutuhkan seperti pekerja kantor yang keren di atas, tidak bermental terepes, dan jauh dari keluhan pasien yang memberi cap kita kebangetan.

(Dipublikasikan ulang dengan izin dari Jurnal Ilmu Bedah Indonesia)

This entry was posted in Academics and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.